11 Adab Bagi Penuntut Ilmu Dalam Islam (Bagian 2)
![]() |
| Guru dan Murid |
5. Apabila bercampur di antara
jamaah wanita dan pria, maka hendaknya diberikan pembatas atau hijab di antara
mereka untuk menghindari fitnah, atau bisa mengadakan majelis ilmu di tempat
tertentu khusus untuk para wanita.
Dalam menuntut
ilmu kita juga harus memperhatikan jamaah, terutama bagi penyelenggara majelis ilmu hendaknya memperhatikan
kondisi jamaahnya. Jika bercampur antara laki-laki dan Perempuan maka wajib
adanya penghalang atau pembatas disediakan untuk menghindari berbagai fitnah. Dengan
adanya pembatas tersebut akan membuat jamaah merasa aman, nyaman, tenang serta
fokus dalam menuntut ilmu.
6. Tidak menyuruh kepada orang lain
untuk berdiri, pindah atau menggeser dari tempat duduknya.
Dari Ibnu
‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidak boleh seseorang menyuruh orang
lain untuk berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk di situ, akan tetapi longgarkanlah
dan luaskanlah”. [HR Muslim juz 4, hal. 1714 no 28]
Telah datang larangan dari Nabi SAW tentang hal
ini, maka setiap dari penuntut ilmu wajib memperhatikannya. Karena hal ini juga
termasuk kedalam etika atau adab dalam menuntut ilmu. Bahkan Allah SWT
memerintahkan untuk berlapang-lapang dalam majelis dan Ikhlas menerima jika seorang
penuntut ilmu tersebut menempati tempat yang tersisa. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ
فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Hai orang-orang
yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majlis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan. [QS. Al-Mujaadalah : 11].
7. Tidak meletakkan tangan kiri ke
arah belakang, karena itu adalah perilaku kaum yang dimurkai (HR. Abu Dawud no.
4848).
Syirrid bin
Suwaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah pernah melintas di hadapanku
sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku
letakkan di belakang. Lalu baginda Nabi bersabda, “Adakah engkau duduk
sebagaimana duduknya orang-orang yang dimurkai?” (HR. Abu Daud no. 4848. Syaikh
Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Yang dimaksud
dengan al maghdhub ‘alaihim adalah orang Yahudi sebagaimana kata Ath Thibiy.
Penulis ‘Aunul Ma’bud berkata bahwa yang dimaksud dimurkai di sini lebih umum,
baik orang kafir, orang fajir (gemar maksiat) , orang sombong, orang yang ujub
dari cara duduk, jalan mereka dan semacamnya. (‘Aunul Ma’bud, 13: 135)
Duduk macam diatas merupakan duduk yang
dilarang karena menyerupai duduknya para orang yang gemar bermaksiat. Maka sebagai
penuntut ilmu hendaknya memperhatikan dan saling mengingatkan agar tidak melakukannya.
Mengapa Rasulullah SAW melarang perbuatan tersebut? Karena perbuatan tersebut
merupakan tasyabbuh (aktivitas menyerupai) orang-orang yang di murkai oleh
Allah SWT. Ada suatu hadis yang menjadi penegas akan hal ini yaitu
مَنْ تَشَبَّهَ
بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia
termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan).
8. Hendaknya segera mendekat kepada
ustadz saat dia akan memulai kajian.
Ada di dalam
suatu hadist disebutkan bahwasanya:
Dari Abu Waqid
Al-Laitsiy, ia berkata, "Pada suatu waktu Rasulullah SAW sedang duduk di
masjid bersama orang banyak, kemudian datang tiga orang. Yang dua orang
langsung maju menghadap Rasulullah SAW, sedangkan yang seorang lagi berpaling
lalu pergi. Perawi berkata : Lalu dua orang tersebut berhenti pada majlis
Rasulullah SAW. Adapun salah satu diantaranya melihat tempat yang masih longgar
di dalam majlis tersebut, kemudian ia duduk padanya. Dan yang satunya lagi
duduk di belakang mereka. Sedangkan orang yang ketiga langsung berpaling lalu
pergi. Setelah selesai, kemudian Rasulullah SAW bersabda : "Maukah aku beritahukan
kepada kalian perihal tiga orang tersebut ? Adapun yang satu orang, ia mencari
keridlaan Allah, maka Allah-pun ridla kepadanya. Yang satunya lagi, ia malu
kepada Allah, maka Allah Ta’aalaa-pun malu kepadanya. Sedangkan yang satunya
lagi, ia berpaling, maka Allah-pun berpaling pula darinya. [HR. Bukhari juz 1,
hal. 24].
Hadist tersebut
memiliki banyak makna diantaranya ketika seorang guru sudah ada dihadapannya
ada beberapa tipe penuntut ilmu, ada diantaranya yang langsung datang mendekat
kepada sang guru, ada yang malu-malu, ada pula yang duduk di paling belakang
bahkan ada pula yang berpaling dari majelis. Semua hal tersebut memiliki balasan
masing-masing.
Namun satu yang
pasti, bagi para penuntut ilmu yang memperhatikan hal ini adalah penuntut ilmu
yang memiliki kesungguhan belajar yang tinggi. Maka, ketika guru sudah datang ia
langsung bersiap untuk menyimak apa yang disampaikan.
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar