11 Adab Bagi Penuntut Ilmu Dalam Islam (Bagian 2)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjY8hZoUZ8DL2nBhyphenhyphenchPIAVXwH9zEhkQ2jemQcUmWw6BPLYltnqUEmfvcbeza8aa-8lscd8lGtHPO5eyonDYj3pIU05y_x_L2_mn-fFdWSBFsEMvvGQhBKDZmhOVeHv0SliM_wZmTYvGAoZZCe1vxYxnB-a5qOP_vfAFkyUg00FfAAi2hIkAV03LimqR8lp/s750/pesantren.jpg
Guru dan Murid

5. Apabila bercampur di antara jamaah wanita dan pria, maka hendaknya diberikan pembatas atau hijab di antara mereka untuk menghindari fitnah, atau bisa mengadakan majelis ilmu di tempat tertentu khusus untuk para wanita.

 

Dalam menuntut ilmu kita juga harus memperhatikan jamaah, terutama  bagi penyelenggara majelis ilmu hendaknya memperhatikan kondisi jamaahnya. Jika bercampur antara laki-laki dan Perempuan maka wajib adanya penghalang atau pembatas disediakan untuk menghindari berbagai fitnah. Dengan adanya pembatas tersebut akan membuat jamaah merasa aman, nyaman, tenang serta fokus dalam menuntut ilmu.

 

6. Tidak menyuruh kepada orang lain untuk berdiri, pindah atau menggeser dari tempat duduknya.

 

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidak boleh seseorang menyuruh orang lain untuk berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk di situ, akan tetapi longgarkanlah dan luaskanlah”. [HR Muslim juz 4, hal. 1714 no 28]

Telah datang larangan dari Nabi SAW tentang hal ini, maka setiap dari penuntut ilmu wajib memperhatikannya. Karena hal ini juga termasuk kedalam etika atau adab dalam menuntut ilmu. Bahkan Allah SWT memerintahkan untuk berlapang-lapang dalam majelis dan Ikhlas menerima jika seorang penuntut ilmu tersebut menempati tempat yang tersisa. Allah SWT berfirman:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Mujaadalah : 11].

 

7. Tidak meletakkan tangan kiri ke arah belakang, karena itu adalah perilaku kaum yang dimurkai (HR. Abu Dawud no. 4848).

 

Syirrid bin Suwaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu baginda Nabi bersabda, “Adakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang-orang yang dimurkai?” (HR. Abu Daud no. 4848. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

Yang dimaksud dengan al maghdhub ‘alaihim adalah orang Yahudi sebagaimana kata Ath Thibiy. Penulis ‘Aunul Ma’bud berkata bahwa yang dimaksud dimurkai di sini lebih umum, baik orang kafir, orang fajir (gemar maksiat) , orang sombong, orang yang ujub dari cara duduk, jalan mereka dan semacamnya. (‘Aunul Ma’bud, 13: 135)

Duduk macam diatas merupakan duduk yang dilarang karena menyerupai duduknya para orang yang gemar bermaksiat. Maka sebagai penuntut ilmu hendaknya memperhatikan dan saling mengingatkan agar tidak melakukannya. Mengapa Rasulullah SAW melarang perbuatan tersebut? Karena perbuatan tersebut merupakan tasyabbuh (aktivitas menyerupai) orang-orang yang di murkai oleh Allah SWT. Ada suatu hadis yang menjadi penegas akan hal ini yaitu

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

 

‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan).

 

8. Hendaknya segera mendekat kepada ustadz saat dia akan memulai kajian.

 

Ada di dalam suatu hadist disebutkan bahwasanya:

 

Dari Abu Waqid Al-Laitsiy, ia berkata, "Pada suatu waktu Rasulullah SAW sedang duduk di masjid bersama orang banyak, kemudian datang tiga orang. Yang dua orang langsung maju menghadap Rasulullah SAW, sedangkan yang seorang lagi berpaling lalu pergi. Perawi berkata : Lalu dua orang tersebut berhenti pada majlis Rasulullah SAW. Adapun salah satu diantaranya melihat tempat yang masih longgar di dalam majlis tersebut, kemudian ia duduk padanya. Dan yang satunya lagi duduk di belakang mereka. Sedangkan orang yang ketiga langsung berpaling lalu pergi. Setelah selesai, kemudian Rasulullah SAW bersabda : "Maukah aku beritahukan kepada kalian perihal tiga orang tersebut ? Adapun yang satu orang, ia mencari keridlaan Allah, maka Allah-pun ridla kepadanya. Yang satunya lagi, ia malu kepada Allah, maka Allah Ta’aalaa-pun malu kepadanya. Sedangkan yang satunya lagi, ia berpaling, maka Allah-pun berpaling pula darinya. [HR. Bukhari juz 1, hal. 24].


Hadist tersebut memiliki banyak makna diantaranya ketika seorang guru sudah ada dihadapannya ada beberapa tipe penuntut ilmu, ada diantaranya yang langsung datang mendekat kepada sang guru, ada yang malu-malu, ada pula yang duduk di paling belakang bahkan ada pula yang berpaling dari majelis. Semua hal tersebut memiliki balasan masing-masing.


Namun satu yang pasti, bagi para penuntut ilmu yang memperhatikan hal ini adalah penuntut ilmu yang memiliki kesungguhan belajar yang tinggi. Maka, ketika guru sudah datang ia langsung bersiap untuk menyimak apa yang disampaikan.



Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pencak Silat: Menyehatkan Jiwa & Raga